fbpx

GIDI Jejaki Sejarah Gereja Injili di PASIFIK

Foto bersama Pimpinan Gereja – Gereja Injili di Pasifik dan Afrika – Doc. Media GIDI

GEREJA GIDI MENJEJAKI KEMBALI SEJARAH PERJALANAN GEREJA INJILI DI KAWASAN PASIFIK

Injili-Pasifik: Semua dokumen dan traktat penjanjian manusia diatas planet bumi pasti usang dimakan zaman.

Tak sama seperti Amanat Agung Yesus Kristus kekal adanya; bahkan menjelma menjadi gereja (Church/Jemaat) yaitu Tubuh Kristus. Ia terus berkembang, bersuara, bermisi tak kenal waktu dan ruang, dari generasi ke generasi sepanjang zaman.

Eksisitensi Gereja GIDI secara teologi gerejawi tidak diragukan lagi keberadaanya, seperti gereja-gereja Injili lainnya. Sejak dulu hingga sekarang terbukti masih berpegang teguh pada Amanat Agung Yesus Kristus sebagaimana tertuang dalam visi dan misi yaitu Penginjilan dan Pemuridan seperti tertulis di dalam kitab Matius 28:19-20, Kisah Para Rasul 1:8.

Setelah 54 tahun kemudian, gereja GIDI kembali menjejaki sejarahnya di kawasan Pasifik .

Sejarah terbentuknya gereja- gereja di kawasan Pasifik. Disana terlihat gereja-gereja Tuhan berdiri kokoh, ayunan lonceng gereja dan nyanyian gerejawi masih terdengar merdu.

Tak terbantahkan lagi kalau Amanat Agung Yesus sudah lama berakar dan bertumbuh sampai menjalar ke seluruh gugusan pulau-pulau, pelosok kampung, dusun-dusun di tengah suku- suku rumpun Melanesia, Polinesia dan Mikronesia.

Inilah waktu Tuhan bagi gereja-Nya, kembali pada Injil, yang adalah kekuatan Allah. Bangkit bersatu, satukan gerak dan langkah bersama-sama menjadi berkat bagi bangsa- bangsa lain yang belum mendengar tentang Injil Yesus.

Hal ini diserukan oleh Presiden GIDI Pdt. Dorman di sela-sela Konferensi Pioners dan Gereja-Gereja Injili Pasifik agar menjejaki dan menggalang seluruh gereja Injili di Pasifik

untuk kembali pada Amanat Agung Yesus Kristus dan sejarahnya.

Foto Bersama Dewan Gereja Injili di Afrika dan Pasifik – Doc. Media GIDI

“Sudah lama kita melayani sendiri-sendiri, sekarang waktunya kita (red: gereja-gereja pasifik) harus bersatu untuk menjadi berkat bagi bangsa- bangsa lain di Asia, Afrika sampai Eropa”, pintanya.

Gereja GIDI lahir dari tiga badan misi: UFM, APCM dan RBMU dengan latar belakang dan sejarah yang unik. Uniknya itu, tiga badan misi yang berbeda, tapi menjadi satu dan berkomitmen melahirkan satu gereja yang berciri khas kepribumian. Metode yang mereka gunakan adalah dengan cara menginjili orang asli (lokal) kemudian dilatih dan diangkat menjadi pemimpin gereja setempat — memimpin diri sendiri”.

Dalam sejarah gereja GIDI tercatat bahwa kawasan Pasifik menjadi basis utama penginjilan

ketiga badan misi ini, kemudian suatu hari mereka bergabung dalam United Ducth Mission guna mempermudah proses perizinan dari pemerintah Belanda yang berkuasa pada saat itu, dan setelah mendapat izin, Roberst Storey selaku penggagas sekaligus perintis misi secara resmi menginjakkan kaki di Tanah Papua (red: Ducth New Guinea waktu itu) pertengahan Tahun 1949.

Yang menarik disini adalah menemukan fakta bahwa benar adanya gereja-gereja Injili pribumi diantara organisasi gerejayangdatangdariluar.

Sejakpertengahan tahun2016 gereja GIDI telah menjejaki sejarah terhadap asal usul lahir dan tumbuhnya gereja-gereja berazaskan Injili di Kawasan Pasifik ini, terutama pos-pos yang pernah dibuka oleh ketiga badan misi khususnya badan misi APCM (Asia Pasific Commision Mission).