fbpx

JANGAN BONGKAR PAGAR GIDI

“Saya dipilih untuk tegakkan AD dan ART GIDI, jangan berani bongkar pagar  GIDI”.suara lantang ini terdengar begitu jelas membuat suasana ruang rapat   hening sontak. Seperti petir menghantam bumi dikala cuaca mendung. Suara itu tak lain datang dari pria yang di kenal memiliki tempramen tinggi Pdt.Dorman Wandikbo ketika menjabat sebagai presiden Gereja GIDI periode 2013-2018.

GIDI BUTUH pemimpin yang berkaliber tepat untuk situasi yang tepat pula. Sangat langkah untuk menemukan pemimpin yang berani tdk populer demi Tuhannya,Gerejanya dan Umatnya.

Jika kita telaah kepemimpinan rohani dalam Alkitab,banyak dari mereka di tolak oleh dunia karena mengatakan apa yang ‘ ADIL dan yang  BENAR ; tentang apa yang berkenan bagi Tuhan, daripada yang mengenakan manusia.

Tanggungjawab ini sangat di rasakan oleh pemimpin gereja masa kini . memilih tetap tagar berdiri kokoh menahan arus pendapat  dari luar maupun dari dalam.Terhadap orang yang mau mencabik-cabik tubuh Kristus yaitu Gereja.memecah bela seperti  para prajurit bengis membagi-bagikan harta terakhir yang di miliki Yesus yaitu jubah. Eforia gerejanisasi sedang melanda di tanah Papua. Banyak gereja berkompromi berbagi organisasi tetapi tanpa peduli dengan Yesus. Situasi ini pula yang dihadapi oleh pemimpin gereja GIDI pada akhir ini.

Ketika orang mulai mencibir ‘aturan gereja: AD/ART adalah buatan manusia yang bisa ganti menurut selera pribadi’. Tak peduli dengan ‘sejarah,fakta,dan Akibat yang tertulis didalamnya’. Itulah sebabnya, Pdt. Dorman wandikbo kerap kali mengatakan: “ pemimpin harus berani tegakan Firman Tuhan dan AD/ART gereja tanpa kompromi.

Ia yakin bahwa GIDI hari ini sudah menjadi gereja yang mengglobal maka umat GIDI harus mengerti dan patuh pada aturan gereja. Sikap pembelaan ini sungguh lahir dari rasa memiliki dan kecintaannya terhadap gereja pribumi yang notabene lahir, besar dan tumbuh di atas tanah Papua ini.

Harga yang di bayar pu sangat mahal ketika harus menolak ketenaran dunia demi pertahankan keutuhan  dan kemurnian gereja.Dibalik tekanan dan arus pendapat yang keras, ada satu frase yang selalu menghibur dan mengingatkan akan jati diri gereja adalah pesan para pendiri gereja pribumi pada detik-detik proklamasi, 12 Februari 1963:

 “Kami    Ingin        Berdiri    Sendiri”