fbpx

SAMBUTAN PRESIDEN GIDI – PDT. DORMAN WANDIKBO | DALAM RANGKA HUT GIDI KE – 58

SAMBUTAN PRESIDENT GIDI DALAM RANGKA HARI ULANG TAHUN GIDI KE-58

Saudara-saudari anggota Jemaat Gereja Injili Di Indonesia, didalam negeri maupun di luar negeri yang berbahagia pada hari ini Jumat 12 Februari 2021, “suatu hari Sejarah”, peringatan hari lahirnya Gereja Injili Di Indonesia berdasarkan peristiwa 50 tahun lalu, di Pit-River, 12 Februari 1963, pelaku sejarah, pekabaran Injil Kristus, Misi CAMA, Misi ABMS, Misi APCM, Misi UFM, dan Misi RBMU dalam suatu konferensi Gereja Kristen pertama di pedalaman Tanah Papua.

A. Hasil Pekabaran Injil Mula-Mula

Pada tahun 1960-1961 dilakukan pembakaran jimat jimat di seluruh pengunungan tengah Papua. Pada tahun 1962-1963 dilakukan Pembabtisan awal dan memulai gereja mula-mula. Untuk menyebarkan Injil di Wilayah Bogo, Toli dan Yamo, misionaris koteka yang pertama dibekali dalam klas khusus dengan Metode Bagaimana Cara Bersaksi dan diajarkan Buta Huruf.

B. Membentuk wadah Gereja pertama12 Februari 1963

Setelah Jemaat-jemaat baru di 11 Wilayah Suku Lani terus berkembang maka dilakukan Konfrensi Lani gabungan pertama di Pirime (Pit River) dengan jumlah pemimpin Lani 51 orang dan 7 Misionaris yaitu misionaris dari ABMS, RBMU, C&MA dan UFM. Saat itu dalam terik panas mata hari di belantara Pit River, para tua tua dari Wilayah Bogo, Yamo dan Toli dibicarakan dan disepakati bersama untuk mau berdiri sendiri. Dalam rapat sementara skor waktu itu, satu penekanan yang disampaiakan oleh bapak Iyawon Yikwa dari Kelila menyampaikan bahwa, “Kami dari Lembah Bogo,

Lembah Toli dan Lembah Yamo kalau masak buah merah, biasanya makan dalam satu tempat yang disediakan jadi mari kita bersatu untuk berdiri sendiri”. Setelah itu, skor waktu dalam sidang itu di buka lalu kasih kesempatan untuk menyampaikan hasil rapatnya sehingga, bapak Iyawon Yikwa perwakilan Wilayah Bogo, Toli dan Yamo langsung berdiri dalam sidang itu dan berkata, “ di saat bapak-bapak misi kembali ke negeri kamu, apakah Injil Yesus Kristus yang kamu bawah ini juga akan di bawah kembali atau kasih tinggal untuk kami ? “, misionaris menjawab dalam sidang itu bahwa, “ Injil yang kami bawah ini untuk kamu jadi kami tidak akan bawah kembali ke negeri kami “, maka bapak Iyawon Yikwa dengan teman-temanya sepakat dan berkata, “ kalau begiitu kami mau berdiri sendiri “. Dengan demikian dalam konfrensi itu menghasilkan dan menetapkan suatu Gereja Pribumi yang berdiri sendiri di Pendalaman Papua yang disebut dengan nama Gereja Injili pada waktu itu. Itulah sebabnya Gereja Injili Di Indonesia menerima dan mengakui 12 Februari 1963 sebagai hari lahirnya Gereja Injili Di Indonesia maka setiap tahun diperingati sebagai Hari Ulang Tahunnya. Setelah Konfrensi itu gereja yang baru lahir ini sedang mengikuti arah politik Belanda dan Indonesia terhadap Tanah Papua yang saling direbutkan, maka gereja ini belum diberi nama yang lengkap pada waktu itu. Kemudian pada tanggal 1 Mei 1963 Papua jatuh ke tangan Republik Indonesia maka nama Papua dulu Nenderlan Neuguinea diganti menjadi nama Irian Barat, maka gereja yang baru lahir di Pit River 12 Februari 1963 itu pada

Konfrensi Umum di Karubaga memberi nama lengkap yaitu Gereja Injili Irian Barat (GIIB) pada tahun 1968 namun status nama gereja belum diakui secara terbuka atau umum. Pada waktu itu Misi UFM dan RBMU sepakat untuk Gereja yang baru lahir ini disiapkan pemimpin-pemimpin melalui sekolah-sekolah Alkitab, sehingga misi UFM membuka Sekolah Alkitab di Yamo pada bulan Agustus 1964 . Pada waktu yang sama juga Misi RBMU membuka Sekolah Alkitab

page2image17997120 page2image18005024

Marnata di Toli. Pada tahun 1968 itu juga tata gereja GIIB diselesaiakan oleh komite terdiri dari UFM dan RBMU. Kemudian pada tanggal 20-22 Februari 1968 dalam Konfrensi Umum di Ilu Nama Gereja GIIB diresmikan oleh peserta Konfrensi dari Wilayah Bogo, Toli dan Yamo. Pada bulan Desember 1969 Penamatan Siswa Alkitab pertama 12 orang. Mereka itu disiapkan pemimpin pertama untuk gereja ini. Setelah itu pada bulan Januari 1970 dilakukan Konfrensi Umum GIIB di Ilu menghasilkan dan memutuskan pemilihan Badan Pengurus GIIB yaitu terpilihnya, Ketua : Nggun Wanena (dari Yamo), Wakil Ketua : Kimarek (dari Kelila), anggota : Tero (dari Bogo). Mereka menjadi pemimpin pertama untuk gereja ini setelah baru satu bulan tamat dari Sekolah Alkitab Mulia. Mereka itu siswa baru saja tamat dan belum tau banyak pengalaman, tetapi Tuhan mau pake mereka dengan caraNya sendiri untuk gerejaNya.

C. Injil terus diberitakan di Daerah Pengunungan Lain Sampai ke Pesisir Pantai.

Dari Misi UFM dan orang Lani yang telah percaya pergi memberitakn Injil di daerah bagian Timur yaitu, Kiwirok, Nalca, Okbab, Mbime, Ibumek dan Mborome yang saat ini disebut Kabupaten Yahukimo dan Pengunungan Bintang. Setelah itu misi Injil terus diberitakan dari Wilayah Yamo ke daerah Mamberamo dan diteruskan ke daerah Markai Serui. Dari misi RBMU dan orang Lani dari Toli yang telah percaya Yesus melakukan pekabaran Injil ke daerah timur lain yaitu, daerah Ninia, Soba, Holuwon sebagian daerah Yahukimo, kemudian pada waktu yang sama ke daerah Selatan yaitu daerah Kawem dan Kamur di Merauke. Setelah itu lain ke arah utara bahkan bagian timur lain yaitu, daerah Tayeve, Danau Bira sampai ke Sentani. Nama Irian Barat telah diganti menjadi Irian Jaya pada tahun 1973, maka pada saat Konfrensi di Kelila tahun 1973 nama Gereja Injili Irian Barat (GIIB) telah berubah menjadi Gereja Injili Irian Jaya (GIIJ). Setelah itu terpilihnya BPH Sinode ke-2 yaitu, Ketua : Pdt Keboba Wanimbo, Wakil Ketua : Pdt. Ondowa Elabi, Sekertaris : Wuninip Weya, Bendahara : Yawon Penggu.

D. Injil Masuk Di Daerah Jawa Bali dan Sumatera

Injil bukan saja untuk orang Papua, karena itu Pdt David Scovill bersama mahasiswa Papua di STII Yog Jakarta terus memberitakan Injil di daerah Jawa, Bali, Sumatera dan Pulau-Pulau lain dan banyak mendirikan gereja disana sehingga nama Gereja Injili Irian Jaya telah diganti nama Gereja Injili di Indonesia (GIDI) pada Sidang Umum di Karubaga pada tanggal 5 Agustus 1988. Pada tanggal 6 Agustus 1989 status nama gereja yang telah diganti itu mereka pergi mendaftarkan ulang nama gereja ini ke Departemen Agama di Jakarta

E. SISTIM PEMERINTAHAN GIDI

Sistim atau bentuk Pemerintahan kita adalah Presbiterian dan Kogregasional yang artinya adalah Keputusan selalu bisa datang dari pimpinan gereja tertinggi tetapi

juga usulan dan saran dan kekuasaan penuh kepada jemaat-jemaat dan melakukan rapat-rapat untuk forum pengambil keputusan bersama.

F. HASIL PELAYANAN SELAMA 58 TAHUN GIDI Hasil Pelayanan selama 58 tahun ini Gereja Injili Di Indonesia, selama 58 tahun ini GIDI memiliki:

  1. Wilayah
  2. Klasis
  3. Calon Klasis
  4. Pendeta
  5. Jumlah Penginjil
  1. Rumah Sakit
  2. Sekolah Alkitab

Peginjilan ke Luar Negeri:
1. Pdt. Yusak Yaguli PNG
2. Ev. Enis Kobak Uganda
3. Fred Atahboe Belanda
4. Ps. Amir Khan Pakistan

8 Wilayah : 76 Klasis Sah : 21 Calon Klasis : 7.061 Pendeta : 500 Penginjil : 3 Rumah Sakit : 22 Sekolah Alkitab

DOA ESTER

Walaupun selama 58 tahun GIDI tetap teguh melayani Tuhan tetapi juga kita mengahadapi persoalan politik Papua tidak menentu yang mengakibatkan banyak hambatan-hambatan dalam pekabaran Injil Kristus:

a. Persoalan pelanggaran HAM di tanah Papua, segera melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebanyak 18 nomor

  1. Perdasus 1/2011 tentang Hak Perempuan Papua untuk korban kekerasan dan pelanggaran HAM
  2. Pembunuhan diluar hukum oleh aparat keamanan, termasuk infromasih tentang jumlah korban berdasarkan etnis, khususnya orang asli Papua
  3. Program reparasi untuk keluarga korban dan status hukum terakhir dari kasus Wasior (2001) Wamena (2003) Paniai

(2014)

  1. Langkah-langkah yang diambil untuk membentuk mekanisme independent untuk memastikan pertanggungjawaban atas tuduhan perlakukan buruk oleh penegak hukum dan petugas keamanan dari orang-orang yang ditahan.
  2. Langkah-langkah yang diambil untuk melindungi pengungsi, pencari suaka dan pengungsi internal, termasuk mereka pengungsi karena konflik di Provinsi Papua dan Papua Barat. Dalam hal ini adalah (a) langkah-langkah yang diambil untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap refoulement dan prosedur penentuan status pengungsi (b) data statiktik tentang orang-orang pengungsi dan kondisi kehidupan mereka serta rencana untuk memantau dan membantu kepulangan; dan (c) dan tindakan yang diambil untuk mencegah penyebaran COVID-19 diantara mereka.
  3. Harap memberikan infromasi tentang upaya yang dilakukan untuk memastikan akses ke pengadilan, independensi peradilan, dan pengadilan yang adil.
  4. Semakin banyaknya kendala yang terjadi dalam konteks debat akademik, keterlibatan politik atau kegiatan serupa, termasuk pelarangan topik tertentu diPerguruan Tinggi, seperti isu yang berkaitan dengan Papua.
  5. Dugaan pembatasan jurnalis asing ke Prosinsi Papua dan Papua Barat termasuk informasi tentang upaya untuk menjamin mempromosikan kebebasan pers.

5. Kekhawatiran bahwa krminalisasi pencemaran nama baik dan penerapan sewenan-wenang ketentuan dalam Undang-Undang Informasi transaksi elektronik dan KUHP, tentang makar, informasi hoax, dan hasutan permusuhan, digunakan untuk

membatasi kebebasan berekspresi.

  1. Pemadaman sebagian jaringan internet di Provinsi Papua dan Papua Barat pada bulan Agustus dan September 2019.
  2. Kekhawatirang bahwa pasal 106, dan 110 KUHP digunakan untuk membatasi ekspresi yang sah dari hak berkumpul secara damai.

12.Kekhawatiran bahwa Polisi tidak mengeluarkan Surat Tanda Terima Pemberitahuan demontrasi yang disampaikan oleh penyelenggara protes dan menggunakan tidak terbitkannya surat pemberitahuan ini untuk membatasi pelaksanaan hak berkumpul secara damai, khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat.

13.Penggunaan kekuatan yang berlebihan untuk membubarkan demontrasi damai, termasuk protes pada bulan Agustus dan September tahun 2019 di Surabaya, Malang, Jakarta dan kota-kota lain diseluruh Papua dan Papua Barat serta dalam protes pasca pemilihan Mei 2019

  1. Penjelasan tentang tata cara pembentukan Partai Lokal Provinsi Papua dan Papua Barat terkait dengan UU Noomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua
  2. Infromasi tentang kesesuaian dengan kovenan hukum dan tindakan lain yang diambil sehubungan dengan seruan untuk referendum dan penetuan nasip sendiri di Papua dan protes tanpa kekerasan yang menganjurkan alasan yang sama, termasuk tentang penggunaan kejahatan makar dipasal 106 dan 110 di KUHP.

16.Informasi mengenai laporan yang menuduh bahwa milisi dan kelompok nasionalis telah secara aktif terlibat dalam tindakan kekerasan di Provinsi Papua dan Papua Barat serta tindakan yang

diambil oleh pihak berwenang untuk mencegah pelanggaran Hak Asasi Manusia semacam itu.

17.Langkah-langkah yang diambil untuk mencegah dan memberantas diskriminasi rasil terhadap orang asli Papua oleh aktor non-negara dan lembaga pemerintah, termasuk polisi, dan lembaga peradilan pidana.

18. Data demokrafi dan sensus yang dipilah berdasarkan latar belakang adat/etnis untuk Provinsi Papua dan Papua Barat.

b. Kepada pemerintah Indonesia segera selesaikan empat akar persoalan Papua yang dikemukakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

 

  1. Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia
  2. Kekerasan dan pelanggaran HAM sejak 1965 yang nyaris nol keadilan
  3.  Diskriminasi dan marjinalisasi orang Papua ditanah Sendiri
  4.  Kegagalan pembangun meliputi Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Rakyat.

c. Kepada Bapak Presiden Republik Indonesia dengan tokoh Papua merdeka yaitu dengan ULMWP yang fasilitasi oleh pihak ketiga.

  1. Keluarga besar Gereja Injili Di Indonesia menolak pemekaran Provinsi karena itu bukan kebutuhan orang asli Papua
  2. Segera menarik militer non organik yang ada di Puncak Jaya dan Intan Jaya, karena umat Tuhan sampai sekarang ini masih ada dihutan.

Gereja Injili Di Indonesia sangat prihatin dengan kondisi jemaat yang ketakutan karena dikuasai oleh militerisme yang kuat dipos- pos membuat pelayanan gereja tidak kondusif. Akhir kata:

Walaupun Wilayah pelayanan GIDI banyak masalah, tantangan kita hadapi selama ini baik dari dalam maupun dari luar, masa depan kita tidak menentu, masa depan kita terancam tetapi melalui HUT GIDI yang ke-58 ini saya serukan supaya kita tetap eksis dalam pelayanan dengan satu semboyan “ SATU TUHAN, SATU RAJA, SATU IMAN, SATU TUBUH, SATU KELUARGA, SATU VISI, SATU PENGHARAPAN DALAM KRISTUS DI GEREJA INJILI DI INDONESIA.

DAN AKHIRNYA SELAMAT MERAYAKAN HARI ULANG TAHUN, GEREJAKU, GEREJAMU, GEREJA KITA , GEREJA INJILI DI INDONESIA KE – 58

SENTANI, 12 FEBUARI 2021

PRESIDEN GEREJA INJILI DI INDONESIA

page9image17916240PDT. DORMAN WANDIKBO

 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]